Terakhir masuk garis finish, atlet ini tetap jadi juara
![]() |
| http://derekredmond.com/sites/default/files/1109594-1_0.jpg |
Dikutip
dari http://www.kisahinspirasi.com/2013/01/ayah-kita.html, Olimpiade Barcelona, 1992. Derek Redmond, seorang
atlet pelari olimpiade asal Inggris. Impian terbesarnya ialah mendapatkan
sebuah medali olimpiade. Suara pistol menanda dimulainya perlombaan. Latihan
keras yang dijalani Derek Redmond, membuatnya segera unggul melampaui
lawan-lawannya. Dengan cepat ia sudah memimpin hingga meter ke 225. Berarti
kurang 175 meter lagi. Ya, kurang sebentar lagi ia kan mendapatkan medali yang
diimpikannya selama ini.
Namun tak ada yang menyangka ketika ia sedang memimpin
perlombaan tersebut, tiba-tiba ia didera cedera. Secara tiba-tiba di meter ke
225 tersebut, timbul rasa sakit luar biasa di kaki kanannya. Saking sakitnya,
seolah kaki tersebut telah ditembak sebuah peluru. Derek Redmond pun menjadi
pincang. Yang ia lakukan hanya melompat-lompat kecil bertumpu pada kaki
kirinya, melambat, lalu rebah di tanah. Sakit di kakinya telah menjatuhkannya. Ketika
tim medis mendatanginya dengan membawa tandu, ia berkata, “Aku tak akan naik
tandu itu, bagaimanapun juga aku harus menyelesaikan perlombaan ini”, katanya.
Maka Derek pun dengan perlahan mengangkat kakinya
sendiri. Dengan sangat perlahan pula, sambil menahan rasa sakit dikakinya, ia
berjalan tertatih dengan sangat lambat. Tim medis mengira bahwa Derek ingin
berjalan sendiri ke tepi lapangan, namun mereka salah. Derek ingin menuju ke
garis finish.
Selengkapnya kita simak video dibawah ini :
https://www.youtube.com/watch?v=kjkBPthoYVg&pbjreload=10
Melihat anaknya dalam masalah, Ayahnya yang berada di
atas tribun, tanpa berpikir panjang ia segera berlari ke bawah tribun. Tak
peduli ia menabrak dan menginjak sekian banyak orang. Baginya yang terpenting
adalah ia harus segera menolong anaknya. Dan akhirnya Jim, Ayah Derek sudah
sampai di tribun bawah. Ia segera melompati pagar lalu berlari melewati para
penjaga menuju Anaknya yang berjalan menyelesaikan perlombaan dengan tertatih
kesakitan. Kepada para penjaga ia hanya berkata, “Itu anakku, dan aku akan
menolongnya!”
Akhirnya, kurang 120 meter dari garis finish, sang
Ayah pun sampai juga di Derek yang menolak menyerah. Derek masih berjalan
pincang tertatih dengan sangat yakin. Sang Ayah pun merangkul dan memapah
Derek. Ia kalungkan lengan anaknya tersebut ke bahunya. “Aku disini Nak”,
katanya lembut sambil memeluk Anaknya, “dan kita akan menyelesaikan perlombaan
ini bersama-sama. Ayah dan anak tersebut, dengan saling berangkulan, akhirnya
sampai di garis finish. Beberapa langkah dari garis finish, Sang Ayah, Jim,
melepaskan rangkulannya dari anaknya agar Derek dapat melewati garis finish
tersebut seorang diri. Lalu kemudian, barulah ia merangkul anaknya lagi.
Enam puluh lima ribu pasang mata menyaksikan mereka,
menyemangati mereka, bersorak bertepuktangan, dan sebagian menangis. Scene Ayah
dan anak itu kini seolah lebih penting daripada siapa pemenang lomba lari. Derek
Redmond tak mendapat medali, bahkan ia didiskualifikasi dari perlombaan. Namun
lihatlah komentar Ayahnya. “Aku adalah ayah yang paling bangga sedunia!, Aku
lebih bangga kepadanya sekarang daripada jika ia mendapatkan medali emas.”
Dan itulah kisah Derek Redmond, seorang atlet pelari
olimpiade asal Inggris, meskipun dia gagal menjadi juara di Olimpiade
Barcelona, 1992 tersebut, akan tetapi dia mampu menyelesaikan ajang olimpiade
tersebut sampai garis finish walaupun dengan lari terpincang-pincang. Dan karena
semangat pantang menyerahnya itupun, dia akhirnya menjadi juara di hati ayahnya.
Berikan komentar kalian dibawah ini yah!
Terima kasih semoga artikel ini bisa menginspirasi
Dikutip
dari :
http://www.kisahinspirasi.com/2013/01/ayah-kita.html
https://www.youtube.com/watch?v=kjkBPthoYVg&pbjreload=10

Post a Comment