Tragedi Tangisan Di Serambi Mekah yang Mengguncang Dunia

Tak Terasa sudah 13 tahun Peristiwa yang memilukan terjadi di Serambi Mekah. Air mata tak henti-hentinya mengalir seraya merasakan isak tangis dan jeritan saudara kita di Aceh. Musibah tersebut tak akan pernah bisa terlupa sampai kapanpun. Banyak korban berjatuhan, anak yang kehilangan ibunya hanya bisa menangis dan mendoakan orang tuanya agar diberi tempat terbaik disisi-Nya.
Dilansir dari kompasiana.com (23/02/2012), Musibah Gempa bumi dan Tsunami Aceh terjadi pada hari Minggu pagi, 26 Desember 2004. Kurang lebih 500.000 nyawa melayang dalam sekejap di seluruh tepian dunia yang berbatasan langsung dengan samudra Hindia. Di daerah Aceh merupakan korban jiwa terbesar di dunia dan ribuan bangunan hancur lebur, ribuan pula mayat hilang dan tidak di temukan dan ribuan pula mayat yang di kuburkan secara masal.
Kala itu Gempa terjadi pada waktu tepatnya jam 7:58:53 WIB. Pusat gempa terletak pada bujur 3.316° N 95.854° E kurang lebih 160 km sebelah barat Aceh sedalam 10 kilometer. Gempa ini berkekuatan 9,3 menurut skala Richter dan dengan ini merupakan gempa Bumi terdahsyat dalam kurun waktu 40 tahun terakhir ini yang menghantam Aceh, Pantai Barat Semenanjung Malaysia, Thailand, Pantai Timur India, Sri Lanka, bahkan sampai Pantai Timur Afrika. Beberapa pakar gempa mengatakan menganalogikan kekuatan gempa ini, mampu membuat seluruh bola Bumi bergetar dengan amplitude getaran diatas 1 cm. Gempa yang berpusat di tengah samudera Indonesia ini, juga memicu beberapa gempa bumi diberbagai tempat didunia.
Gempa yang mengakibatkan tsunami menyebabkan sekitar 230.000 orang tewas di 8 negara. Ombak tsunami setinggi 9 meter. Bencana ini merupakan kematian terbesar sepanjang sejarah. Indonesia, Sri Lanka, India, dan Thailand merupakan negara dengan jumlah kematian terbesar. Kekuatan gempa pada awalnya dilaporkan mencapai magnitude 9.0. Pada Februari 2005 dilaporkan gempa berkekuatan magnitude 9.3. Meskipun Pacific Tsunami Warning Center telah menyetujui angka tersebut. Namun, United States Geological Survey menetapkan magnitude 9.2. atau bila menggunakan satuan seismik momen (Mw) sebesar 9.3.

Kecepatan rupture diperkirakan sebesar 2.5km/detik ke arah antara utara - barat laut dengan panjang antara 1200 hingga 1300 km. Menurut Koordinator Bantuan Darurat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Jan Egeland, jumlah korban tewas akibat badai tsunami di 13 negara (hingga minggu 2/1/2005) mencapai 127.672 orang.
Namun jumlah korban tewas di Asia Tenggara, Asia Selatan, dan Afrika Timur yang sebenarnya tidak akan pernah bisa diketahui, diperkirakan sedikitnya 150.000 orang. PBB memperkirakan sebagian besar dari korban tewas tambahan berada di Indonesia. Pasalnya, sebagian besar bantuan kemanusiaan terhambat masuk karena masih banyak daerah yang terisolir. Sementara itu data jumlah korban tewas di propinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara menurut Departemen Sosial RI (11/01/2005) adalah 105.262 orang. Sedangkan menurut kantor berita Reuters, jumlah korban Tsunami diperkirakan sebanyak 168.183 jiwa dengan korban paling banyak diderita Indonesia, 115.229 (per Minggu 16/01/2005). Sedangkan total luka-luka sebanyak 124.057 orang, diperkirakan 100.000 diantaranya dialami rakyat Aceh.
Menurut U.S. Geological Survey korban tewas mencapai 283.100, 14.000 orang hilang dan 1,126,900 kehilangan tempat tinggal. Menurut PBB, korban 229.826 orang hilang dan 186.983 tewas. Tsunami Samudra Hindia menjadi gempa dan Tsunami terburuk 10 tahun terakhir. Di Indonesia, gempa dan tsunami menelan lebih dari 126.000 korban jiwa. Puluhan gedung hancur oleh gempa utama, terutama di Meulaboh dan Banda Aceh di ujung Sumatera. Di Banda Aceh, sekitar 50% dari semua bangunan rusak terkena tsunami.
Dilansir dari laman https://walrus.wr.usgs.gov (31/05/2015), Tim Survei Tsunami Internasional (ITST) yang mempelajari dampak tsunami 26 Desember 2004 di pulau Sumatra di Indonesia mencatat ketinggian gelombang 20 sampai 30 m (65 sampai 100 kaki) di ujung barat laut pulau itu dan menemukan bukti yang menunjukkan bahwa ketinggian gelombang mungkin berkisar Dari 15 sampai 30 m (50 sampai 100 kaki) sepanjang hamparan pantai barat laut sepanjang 100 km (60 mil). Ketinggian gelombang ini lebih tinggi dari yang diperkirakan oleh model komputer yang dilakukan setelah gempa yang memicu tsunami. "Groundtruthing" model, yang digunakan untuk meramalkan tsunami untuk sistem peringatan dini dan upaya perencanaan jangka panjang, merupakan salah satu tujuan utama survei ilmiah.
Survei dilakukan dari tanggal 20 sampai 29 Januari 2005 di provinsi Aceh, yang terletak hanya 100 km (60 mil) dari pusat gempa dan mengidentifikasi apa yang banyak dianggap sebagai bencana tsunami terburuk di semua wilayah yang terkena dampak. Sekitar sepertiga dari 320.000 penduduk ibukota Aceh, Banda Aceh, meninggal atau hilang, terhitung banyak korban di Indonesia yang meninggal lebih dari 128.000 orang dan hampir 40.000 hilang.
Sangat memilukan musibah tersebut, dengan membayangkannya pun mungkin akan menjadi mimpi buruk buat kita. Bayangkan jika kita melihat orang tua, saudara, teman terbawa arus tsunami yang begitu dahsyat, sedangkan kita hanya bisa melihat dari kejauhan karena untuk menolong diri sendiripun sulit. Sangat mengerikan bukan?
Untuk itu mari kita sama-sama mendoakan saudara-saudara kita yang menjadi korban musibah Tsunami Di Nanggroe Aceh Darussalam. Semoga mereka tenang disisi Tuhan.
Sekian sobat artikel kali ini, semoga bisa mengingatkan kita akan Keagungan Tuhan Yang Maha Esa.

Post a Comment